Loading image gallery

Loading image gallery

This is Syria.
“Hey kucing bau kencur, berani-beraninya kamuh ! Awrr.” :3

Kita tidak perlu mengharapkan tepuk tangan dan pertemanan yang bersekongkol, lebih baik kita sendiri di jalan yang terang.

Rantau 1 Muara - A. Fuadi (via kurniawangunadi)

Sunnatullah, Islam memang akan kembali asing. Maka beruntunglah mereka yang tetap asing; yaitu yang mencoba teguh membersamai kebenaran, di saat kebanyakan orang telah rusak. Allaahul muwaffiq.

Kita tidak akan pernah menemukan orang yang benar-benar memahami kita, tahu kebiasaan kita, mengerti semua tentang kita. Impossible. Tapi kita bisa menemukan orang yang sungguh-sungguh bersedia memahami kita. Dan itu lebih dari cukup, sepanjang kita juga sungguh-sungguh bersedia memahaminya.

Tere Liye

(via sevma)

Jangan menilai masa depan anak muda yang punya impian banyak berdasarkan keadaan ekonominya yang masih kurang hari ini. Mereka adalah manusia yang punya visi besar, namun terperangkap dalam tubuh yang kecil. Beri mereka waktu untuk membuktikan bahwa mereka mampu.

Mario Teguh (via ridhoferd)

Jika saudaramu mengunjungimu, maka janganlah engkau bertanya, “Engkau mau makan?” Atau, “Apakah aku perlu menyediakan hidangan untukmu?” Namun siapkanlah hidangan, jika ia mau maka ia akan memakannya, jika tidak maka kemasilah.

Sufyan Ats-Tsauri | Adab menjadi tuan rumah

Hebat?

IMAM HASAN AL-BASHRI (radhiyallaahun ‘anhu) suatu saat pagi disapa seseorang,

”Apa kabarmu pagi ini?”

Hasan Al Bashri pun menjawab, ”Baik”.

Kemudian orang itu kembali bertanya, ”Bagaimana keadaanmu?”

Imam Hasan Al-Bashri pun menjawab,

”Engkau bertanya mengenai keadaanku? Bagaimana menurutmu dengan manusia yang sedang naik perahu hingga tengah lautan, kemudian perahu itu pecah. Hingga mereka terombang-ambing dengan berpegangan pada kayu-kayunya dengan kecemasan. Bagaimana keadaan mereka saat itu?”

Orang itu pun menjawab, ”Keadaan mereka sungguh mencemaskan”. 

Imam Hasan Al Bashri pun menyatakan,”Keadaanku lebih parah daripada mereka”. (Ihya Ulumuddin, 4/201)

Demikianlah ulama terdahulu, meski mereka (insyaAllaah) tergolong manusia-manusia yang shalih, namun sedikitpun mereka tidak pernah merasa hebat dengan keshalihannya, bahkan memiliki rasa takut yang sangat besar kepada Allah.

Kemudian bagaimana dengan kita? Dimana posisi kita? Jika kita belum tergolong manusia shalih, pantaskah kita merasa hebat? Pantaskah? Terus berbenah, penilaian itu prerogatif Allah, itu saja. :)

Kekuatan untuk bergerak kerja bukanlah kekuatan yang datang dari diri sendiri melainkan kekuatan yang diberikan Allah.

“Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

(Ar-Rahman: 13)

Boleh Nitip?

Titip, aku ingin menitipkan sesuatu, boleh?
Bersama angin yang membiarkannya tersemai subur 
Bersama air yang mengalirkannya jernih 
Bersama hujan yang meresapkannya kuat-kuat mencengkeram Bumi 
Bersama langit yang menyimpan deru deram harapan penduduk Bumi 
Titip, aku ingin menitipkan sesuatu, boleh?
Bukan. Bukan aku yang memilih menitipkan ini padamu
Tapi Dia, yang maha mengambil segala titipan
Bukan. Bukan aku yang mempercayakan titipan ini padamu
Tapi Dia, yang maha menggenapkan yang ganjil, dengan sebaik-baik cara
Bukan. Bukan hendak bermaksud memberatkan pundakmu tersebab titipan ini
Tapi Dia, hanya ingin tunjukkan bahwa engkau adalah lelaki pilihan yang pantas diserahi titipan ini
Titip, aku ingin menitipkan sesuatu, boleh?
Menitipkan masa depan
Menitipkan duniaku dalam genggamanmu
Menitipkan akhiratku dalam hati jernihmu
Menitipkan separuh hati yang barangkali sempat tak berbentuk
Menitipkan anak-anak
Menitipkan keluarga
Menitipkan cinta
Sekali lagi, bukan. Bukan karena aku tak mampu melakukan sendiri
Hanya saja, kadang berdua itu lebih baik
Kadang bersama-sama menjaga itu lebih baik

Titip, aku ingin menitipkan sesuatu, boleh?
Meski pada akhirnya, titipan itu akan terambil
Tidak ada titipan yang abadi, kan?
Sebab perkara hati, urusan perasaan, tidak melulu tentang menjaga
Tidak melulu tentang mempertahankan
Kadang pula tentang melepaskan
Maka dari itu, aku hanya ingin menitipkan, bukan penuh memasrahkan

Karena ada batas waktu, sebab ada kesementaraan

Pun jika suatu saat masa melepaskan itu tiba
Tak ada yang perlu disesalkan
Aku sudah sampaikan
Kamu pun sudah paham
Kemudian setelah lepas, apa lagi yang hendak kita harapkan?
Berharap pertemuan yang abadi, berbaik sangka kita dijodohkan kembali
Mungkin, kan?
Mungkin saja.
Doa, ini adalah doa yang kusampaikan pada-Nya setelah aku memberi titipan kepadamu
Maka sudahlah, tak perlu kita saling berjanji sehidup semati
Aku tak pernah mendesakmu begitu begini
Karena aku khawatir, kamu abai dengan janjimu sendiri
Kemudian sebabkan engkau dimurkai akibat janji yang tak sanggup kau tepati
Sudahlah, jangan beri aku janji
Aku tak pernah memintamu berjanji

Titip, aku ingin menitipkan sesuatu, boleh?
Entahlah, mengapa Allah mempercayakan titipan ini padamu
Mungkin, karena Dia telah melihat kesanggupanmu untuk menjaga titipan itu…

Kepada siapapun yang membaca tulisan ini

Kepada siapapun yang hendak menitipkan masa depan

Biarkan Allah yang memilihkan seseorang itu padamu

Biarkan, biarkan

Sebab kadang, takdir baik itu datang secara mengejutkan. :)

(Surat titipan imajiner, yang entah bagaimana, kapan, dan kepada siapa tersampaikan)

1 2 3 4 5  Next page >

 

Secangkir Kopi

Mungkin ada baiknya seorang muslim itu seperti kopi; "Dari luar boleh jadi terlihat hitam pekat tak menarik, tetapi mendekatinya justru membangkitkan semangat, membuat ide-ide berpijaran, dan menularkan jejak kebaikan."

 

Close submit section
 
Close ask section
 
Close ask section

Uh Oh - The requested page is not there!

Sorry we could not find it, try visiting the home page.