Loading image gallery

Loading image gallery


mutiaafiah:
"It’s not talk about prestige, not about show off or anything about it. Married is to worship. The longest worship are going to live, therefore choose the best and keep the best for the last." ;)

Bismillaahirrahmanirrahim…
Maafkan, pagi-pagi sudah menge-share-kan tautan seperti ini. Semoga reseptor galau kita masih on control, hehe.
Awal liat tulisan ini di fesbuk, kemudian singkat cerita, saya nemu juga di Tumblr. Yawes, saya reblog-lah secara kalem. Saya setuju sih sama isinya, makanya saya reblog. Kalo ga setuju, saya reblog juga sih. ._. Tapi lebih seringnya, saya nge-reblog sesuatu karena sesuatu itu unyu, bijak, teduh, saya suka, dan pula sepemahaman. Jarang deh nge-reblog untuk meng-counter statement. Soalnya saya (cuma) tipikal pengamat, bukan pengomen(?). *lha trus ini apa *skip *gapenting

"Menikahlah karena engkau yakin bahwa bersamanya, surga menjadi lebih dekat denganmu."

Ces.
Iya sih. Default perempuan adalah DIBIMBING dan DIBENAHI. Tulang rusuk yang bengkok. Kalo dibiarkan bakal bengkok seumur hidup. Kalo dipaksa lurus bakal patah berkeping-keping. Begitulah perempuan. Gelas-gelas kaca. Indah, tapi kalo ga dirawat pake akal dan perasaan, bisa buram, berdebu, bahkan pecah. Kasian, kan? ;)
Indeed, sudah menjadi kewajiban suami untuk mencari nafkah, juga membimbing istri dan anak-anaknya. Kewajiban yang tidak ringan, bukan? Tapi sebagai perempuan, nantinya kita pun diamanahi tugas mulia, yaitu mendidik anak-anak dan meneguhkan suami. Maka menikah, adalah bagaimana kita memahami dan bermain peran dengan cantik. Nantinya, akhlak suami kita tidaklah sekaliber Muhammad bin ‘Abdullah. Istri kita juga tidaklah semulia Khadijah. Kita hanya sedang berusaha mengejawantahkan itu dalam biduk rumah tangga yang baru saja kita bangun. BERSAMA.
Pernikahan ibarat sepotong surga yang dihadirkan ke dunia, dimana kita harus memperjuangkan potongan-potongan yang lain, agar aroma surga itu benar-benar kian dekat. Dan inilah sebabnya, "Pilihlah karena agamanya, niscaya engkau beruntung." Dan mengapa pula, "Menikah bernilai separuh agama, maka bertaqwalah pada separuh yang lain." 
Cerdas bermain peran. Bagaimanapun suami atau istri kita nantinya, semoga Allah menolong kita untuk menjaga niat agar tetap shahihah (lurus). Kita pasti punya serenteng kekurangan. Dia pun demikian. Fokus pada tujuan dan lebih banyak mensyukuri kelebihan. Jika kita belum mampu menjadi suami atau istri yang baik, semoga kita tidak kehabisan semangat untuk saling mendukung dalam ber-iqamatuddin, di dalam rumah kecil kita nantinya.
Tidak akan ada habisnya jika kita terus membandingkan kondisi keluarga kecil kita dengan keluarga yang lain. Yang lebih kaya, yang lebih romantis, suaminya lebih ganteng, istrinya lebih caem, anak-anaknya lebih imut, rumahnya lebih besar, sekalipun dengan mereka yang lebih shalih. Allah telah menakdirkan ia (yang entah siapa), menjadi bagian dari keping rezeki kita, bukan?
Mengingat kebaikannya adalah cara kita bersabar, dan memperbaikinya adalah cara kita bersyukur. Ini bukan sekedar tentang suami yang “membenahi” istri atau istri “membenahi” anak, tapi lebih dari itu, kesadaran untuk “membenahi diri sendiri”. Ada kalanya iri itu bermanfaat kok, apalagi iri dalam hal ketaqwaan.
Eniwei, saya belum nikah. Dimana-mana, ngeciwis soal teori mah gampang. :D
Paling tidak, lewat tulisan ini, saya sedang menasehati diri sendiri. Itu saja. ;)

Skripsi itu seperti hidup, intinya adalah tentang revisi, memperbaiki apa yang kurang tepat, menghapus apa yang salah dan merangkai apa yang sesuai dengan aturan. Ada tahap-tahapnya, ada ujiannya, ada penilaiannya. Namun yang terpenting dari itu semua adalah kelurusan tujuan, kejujuran dan kemauan dalam berproses. Panjang pendeknya proses, bermakna tidaknya proses serta berkah tidaknya adalah pilihan. Kemudian pertanyaan yang selalu terbayang selama proses tersebut adalah, “Kapan revisi?”

Nurul bintu Miftah

egubrak. ._.

Ukuran memang sering merepotkan. Ada yang mendapat banyak tetapi merasa kurang. Ada pula yang beroleh sedikit namun diliputi senang.

@Prie_GS

"He won’t be richer, won’t appear on TV, and still anonymous. But he receives what money can’t buy."

Tentang Kontribusi

Originally posted on Memaknai Kehidupan:

Kita sepakat bahwa seorang muslim wajib berkontribusi dalam dakwah dan jihad, sekecil apapun kontribusinya. Baik itu dengan menggunakan harta, tenaga, pikiran, jiwa, dan raga. Setiap orang dengan kompetensinya masing-masing bisa menyumbangkan apa yang ia miliki sebagai bagian dari kontribusinya untuk Islam.

Namun demikian seseorang tidak bisa memaksakan…

View On WordPress

Tentang Dakwah via Demokrasi

Tentang Dakwah via Demokrasi

laninalathifa:

“Namun apa jadinya bila semua itu menjadi ajang saling vonis yang satu terhadap yang lainnya. Kelompok yang mengharamkan aktivitas dakwah parlemen memberikan vonis kafir-musyrik bahkan seringkali ditujukan secara ta’yin (personal), sedangkan para aktivis dakwah parlemen sering menuduh mereka yang anti demokrasi sebagai orang-orang yang menyerang dari dalam, menggunting dalam…

View On WordPress

Jaman dulu: “Belajarlah bicara.” Jaman sekarang: “Belajarlah diam.” Maka tak heran, emas semakin mahal saja harganya.

Jangan berhenti pada tombol Share, Reblog, Retweet, Repath. Sebab, “Amatlah besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

[61: 3] for my biggest note to self. :’)

Mercusuar

Menerjemahkan tanda, tidak harus menjadi mercusuar terlebih dulu

Utara selatan tenggara, terbaca kompas dalam geladak

Melabuhkan perahu, tidak harus menjadi angin terlebih dulu

Jangkar baja, sebentar kuayun

Menuju dermaga, tidak perlu menjadi pasir terlebih dulu

Riak-riak air asin sudah berbaik hati menghantar pelan

Jika masih terdengar gemuruh, benarkah itu bunyi ombak yang meraung?

Atau jangan-jangan hatimu

Sebab menjadi pelaut, ia harus memahami langit

Bagaimana caranya menipu iris di kornea matamu

Membaca warna laut sebiru warna langit

Sebab menjadi pelaut, hanya perlu memahami dirinya sendiri

Sebelum ia mendengar gemuruh

Yang menjadi bising di dalam hatinya

1 2 3 4 5  Next page >

 

Secangkir Kopi

Menjadilah seperti kopi; "Dari luar, boleh jadi terlihat hitam pekat tak menarik, tetapi mendekatinya justru membangkitkan semangat, membuat ide-ide berpijaran, dan menularkan jejak kebaikan."

 

Close submit section
 
Close ask section
 
Close ask section

Uh Oh - The requested page is not there!

Sorry we could not find it, try visiting the home page.