Loading image gallery

Loading image gallery


Pernah denger komentar semacam ini, “Boikot kok masih pake komputer, laptop, dan hape produk Jews.” Tanggapan: “Kalo kita emang baru bisa memulai dari yang kecil, kenapa engga? Sepertinya bersikap begitu lebih baik daripada tidak sama sekali.” :))

Kindness is a language which the deaf can hear and the blind can see.

Mark Twain   (via alscientist)

Allah menguji seseorang pada titik terlemahnya, sebab dengan begitu Ia hendak menjadikan kita kuat di titik itu.

Mba Riri

Tenang, tidak semua pulang kampung berarti mudik. Kalaupun tidak merasakan mudik, pastikan kita telah benar-benar merasakan pulang.

Pulang

Keluarga adalah tempat kita bermula, rumah yang selayaknya tetap kita pulangi, sejauh apapun jarak kita dengannya. Jarak yang seringkali menjelma menjadi kesibukan kita masing-masing, segala pekerjaan yang seolah tak kunjung usai. Aku selalu ingin menjadi rumah tempatmu pulang, bukan hanya sekedar tempat persinggahanmu dari keseharianmu. Tempat yang paling kamu percaya untuk menunjukkan siapa kamu, tanpa beban, tanpa penghalang, apa adanya. Tempat yang paling membuatmu nyaman untuk jadi diri kamu sendiri, tanpa tekanan, tanpa paksaan, bebas, sesukamu.

Pulangmu tak selalu fisik yang harus hadir di hadapanku. Berapa banyak orang yang berdekatan tapi tak saling terikat. Betapa banyak orang yang pulang ke rumah setiap hari, tapi tak benar-benar pulang. Pulang adalah kamu benar-benar ada untuk orang yang kamu sayangi. Hati dan pikiran kamu ada di situ, bersamanya. Walaupun bisa jadi fisikmu tak berkesempatan hadir. Bukan malah kamunya ada, tapi hati dan pikiran kamunya entah kemana. Pulangmu tak selalu harus melalui darat, laut ataupun udara. Pulangmu juga bisa melalui suara. Suara yang menghubungkanmu dengan rumahmu. Kamu hadir disana; memastikan, menenangkan. Menyapa semua penghuni yang merindukanmu. Kamu benar-benar ada untuk mereka. Dan itu jauh lebih berharga daripada fisik yang sekedar ada.

Nazrul Anwar; Serial Genap

Mudik. Sebentar lagi mudik, kan? Jadi, apa alasanmu mudik? Semoga ada hatimu yang terbawa mudik. Semoga mudik kita tak sebatas perjalanan fisik. Selamat mudik. :’)

Ruang Tunggu

"Tinggal masalahnya, mau diapakan ruang tunggu itu. Ada yang mengisinya dengan usaha, ada yang menjalaninya dengan tindakan yang sia-sia, ber-iri ria dengan pencapaian orang lain, atau bertanya tidak jelas entah kepada siapa, kapan saat untuk dirinya tiba. Ada yang menghiasinya dengan keluh-kesah dan menyalahkan, ada juga yang mengharumkannya dengan aroma kesabaran yang menyebar layaknya udara, yang terpusat di ruang tunggu, lalu perlahan menyeruak ke ruang lain di dalam hati. Tapi apapun itu, pada dasarnya, kita semua sedang melakukan hal yang sama; menunggu ketetapan-Nya tiba."

Adalah tunggu, ruang yang selama ini tertata rapi di hatiku, menanti kehadiran sosokmu yang entah akan seperti apa. Sosok yang nantinya akan menggenapiku. Aku tak tahu apakah kamu memang benar-benar orang baru yang belum aku kenal sebelumnya. Atau jangan-jangan, kita sudah pernah bertemu tapi belum sama-sama tahu. Ah sudahlah, kita lihat saja nanti.

Awalnya aku kira, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Seiring berjalannya waktu, aku baru mengerti bahwa menunggu adalah salah satu kebijaksanaan yang diajarkan Tuhan. Iya, Tuhan selalu lebih tahu waktu yang paling tepat, bukan? Kita hanya harus menunggu sampai waktu yang tepat itu datang. Maka siapapun yang percaya bahwa Tuhan lebih tahu mana waktu yang paling tepat, harus selalu menyediakan ruang tunggu di hatinya.

Tinggal masalahnya, mau diapakan ruang tunggu itu. Ada yang mengisinya dengan usaha, ada yang menjalaninya dengan tindakan yang sia-sia, ber-iri ria dengan pencapaian orang lain, atau bertanya tidak jelas entah kepada siapa kapan saat untuk dirinya tiba. Ada yang menghiasinya dengan keluh-kesah dan menyalahkan, ada juga yang mengharumkannya dengan aroma kesabaran yang menyebar layaknya udara, yang terpusat di ruang tunggu, lalu perlahan menyeruak ke ruang lain di dalam hati. Tapi apapun itu, pada dasarnya, kita semua sedang melakukan hal yang sama; menunggu ketetapan-Nya tiba.

Terkait seberapa sebentar atau lamanya kita harus menunggu, ah aku pikir Tuhan punya kebijaksanaan yang cukup untuk menentukannya. Toh selama ini Tuhan tak pernah terlambat, Dia selalu tepat waktu. Lagipula sebentar atau lama itu harusnya tak terlalu menjadi masalah untuk yang memahami bahwa hidup bukanlah sekedar kumpulan waktu. Hidup adalah kumpulan kesadaran. Karenanya, nilainya bukan ditentukan dari seberapa sebentar atau lamanya, tapi seberapa banyak kesadaran yang kita miliki tentang kehidupan itu sendiri. Kesadaran yang menjelma menjadi hikmah juga pengalaman berharga dalam setiap episode kehidupan. Begitu juga dengan menunggu. Bukan permasalahan seberapa lama waktu tunggu, tapi tentang seberapa banyak hal berharga yang bisa kita dapatkan dari proses menunggu itu sendiri.

Lagipula, siapapun kamu nantinya, seperti apapun kamu yang dikirim Tuhan untuk menggenapiku, sekarang aku tak lagi merasa sedang menunggumu, sejak aku mengerti bahwa menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri. Jadi seumpama Tuhan baru mempertemukan kita setahun kemudian misalkan, maka sebenarnya pertemuan itu sudah dimulai sejak aku sadar dan mempersiapkan diri selayak mungkin untuk menyambutmu, siapapun kamu yang akan datang itu.

[Source: Serial Genap; Ruang Tunggu; Abi-nya Karel]

Al-Quran melembutkan hati yang keras. Al-Quran menyembuhkan hati yang luka.

(via ahmadkrishar)

The right person, the right moment, the right way.

Tere Liye

MasyaAllaah, kucingnya mancuuuung (ke dalem). Gemes stadium akhir. >.<

Langit pagi ~

1 2 3 4 5  Next page >

 

Secangkir Kopi

Menjadilah seperti kopi; "Dari luar, boleh jadi terlihat hitam pekat tak menarik, tetapi mendekatinya justru membangkitkan semangat, membuat ide-ide berpijaran, dan menularkan jejak kebaikan."

 

Close submit section
 
Close ask section
 
Close ask section

Uh Oh - The requested page is not there!

Sorry we could not find it, try visiting the home page.