Loading image gallery

Loading image gallery

perpusassalam:

#ODOP_3 [Mencicipi Kata-Kata] Jika ingin memulai bicara hendaklah kita seperti sedang mencicipi masakan, apakah ia sudah pas di lidah sendiri dan layak dihidangkan kepada orang lain. Mencicipi kata-kata adalah dengan menimbang apakah ucapan yang akan keluar lewat lisan (atau tulisan) itu memberikan manfaat dan kebaikan bagi yang mendengar (atau yang membaca)nya. Jika engkau ingin tahu apa yang ada dalam hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan mulut (lisan)nya, karena lisannya akan memperlihatkan kepadamu apa yang ada di dalam hatinya. “Hati itu ibarat periuk yang sedang mendidih, sedangkan lisan ibarat gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang ketika berbicara, karena lisannya sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau pahit, tawar atau asin, dan lain sebagainya. Dan cidukan lisannya akan menjelaskan kepadamu rasa hati orang itu.” [Yahya bin Mu’adz] Tidak perlu menunggu berbuka puasa untuk mencicipi kata-kata. :)
[Resolusi Ramadhan 1435 H | One Day One Poster | Perpustakaan Islam As-Salam]

Mencicipi kata-kata ga perlu nunggu buka puasa. :))

Roti Tawar Siram Kuah Jahe

[Resep ini pernah dipublikasikan di Majalah Kesehatan Ash-Shihah edisi Maret 2014]

Kata Zingiber berasal dari bahasa Arab, Zanjabil. Al-Quran telah menyebut-nyebut rempah ini dalam sebuah ayat, “Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.” (QS. Al-Insan: 17). So, yuk masak jahe hari ini! :))

Bahan isi:

2 lembar roti tawar, potong dadu
2 sendok makan kismis kuning atau dapat diganti kacang tanah, kolang-kaling, cincau, agar-agar, atau irisan kurma (sesuai selera) » Note: Kemarin saya pake kolang-kaling dan cincau
Bahan kuah:
500 ml air
4 cm jahe segar, bakar, memarkan
1 batang serai, memarkan
1 lembar daun pandan, potong-potong
150 gram gula merah
2 sendok makan gula pasir
¼ sendok teh garam
500 ml santan encer
Cara Membuat:
1.    Panggang roti dalam oven hingga agak kering. Angkat, sisihkan. Jika tidak suka roti panggang, roti dapat langsung digunakan tanpa dipanggang terlebih dulu.
2.    Kuah: rebus air bersama jahe, serai, pandan, gula merah, gula pasir dan garam hingga mendidih.
3.    Susun potongan roti dalam mangkuk
4.    Tuangkan kuah
5.    Taburkan kismis atau bahan tambahan lainnya
6.    Sajikan selagi hangat
Hasil jadi: 4 porsi
Nilai gizi per porsi:
Energi              : 366 kkal
Protein             : 3,5 g
Lemak             : 13,3 g
Karbohidrat     : 61,9 g

Mie Ayam Hehe

Bismillaahirrahmanirrahim,
Dapet kenalan ummahat yang bisa/suka masak itu profit. Bisa dapet resep gratis yang udah teruji secara klinis di dapur. Plus dapet icip-icip *kadang*. Heheu, alhamdulillaah. Seperti kemarin. Setelah mendapat bocoran resep mie ayam handmade, segera saya bereksperimen di rumah. Dan tadaaa~ Alhamdulillaah enak, sedap dipandang, dan ga bikin mules. Bisa menjadi rekomendasi menu buka puasa. Selamat bereksperimen! :))

[Resep Mie Ayam dari Ummu Yasmin]

Bahan utama:
  1. Ayam 250 g, cuci bersih, rebus, potong dadu/suwir-suwir (Karena saya belinya ayam pedaging -ayam kampung mahal, hehe- jadi air rebusannya (air kaldunya) saya buang. Yep. Saya agak ngeri sama isu ayam pedaging yang disuntik hormon.)
  2. Mie telor 1 bungkus
  3. Sawi hijau 100 g (kemarin saya beli 4000, cuma kepake 2000, alias 1/2 iket) cuci bersih, potong-potong, rebus, sisihkan
  4. Daun bawang secukupnya (kemarin saya beli 500, cuma kepake 2 helai) cuci bersih, potong-potong, sisihkan
  5. Minyak untuk menumis
  6. Air 500 ml (untuk kuah)

Bahan bumbu (kuah ayam):

  1. Bawang putih 2 siung
  2. Merica 1/2 sdt
  3. Kunyit 1 ruas jari, bersihkan, bakar sebentar (biar ga langu dan lebih sedep, katanya)
  4. Kemiri 1/2 butir
  5. Daun jeruk 2 helai
  6. Sereh 1 batang, geprek
  7. Salam laos secukupnya
  8. Gula jawa 50 g, sisir (kira-kira seukuran 2 sdm)
  9. Kecap 3 sdm
  10. Garam secukupnya
Bahan tambahan:
  1. Bakso
  2. Bawang goreng
  3. Pangsit (kemarin ga pake, ga ada stok di rumah, haha)
  4. Kerupuk
  5. Acar mentimun (kemarin ga pake, ga sempet ngacar)
  6. Saos/sambel
Cara membuat:
  1. Didihkan air. Rebus mie dengan 2 sdm minyak goreng, biar ga lengket. Masak selama 2-3 menit. Angkat, sisihkan.
  2. Haluskan bumbu nomor 1-4
  3. Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan bumbu nomor 5-7. Tumis sampai layu. Tambahkan air, gula jawa, dan ayam yang telah dipotong-potong. Masak hingga mendidih. Tambahkan kecap dan garam. Angkat. (Note: Menambahkan garam sebaiknya di akhir proses ya, karena yodium punya sifat ga tahan panas. Sayang kalo rusak karena dipanasin terlalu lama. Cheese~ ;))
  4. Siapkan wadah penyaji. Tata mie dan sawi. Siram dengan kuah ayam. Taburi dengan daun bawang dan bawang goreng. Tambahkan bakso/pangsit/kerupuk/acar/seadanya bahan. Kalo rasanya kurang mantep, tambahkan garem/kecap/sambel sendiri sesuai selera.
  5. Alhamdulillaah, siap disantap. Jangan lupa basmallah yaaa~ ;)
Hasil jadi: 4 porsi
Nilai gizi per porsi:
  • Energi : 498 kkal
  • Protein : 22,3 g
  • Lemak : 27,5 g
  • Karbohidrat : 40,6 g
  • Kolesterol : 49,4 g

andiyantosangpembelajar said: Assalam wr wb, Ukhti kenal Gunadi ya,, dia teman saya juga di FIM (Forum Indonesia Muda) Dunia sempit :)

Bismillaah, wa’alaykumussalam warahmatullaah. Waaaah, kalo dibilang kenal ya ga juga mas. Cuma tau di Tumblr, baca2 tulisan beliau, reblog2 juga, haha. FIM? MasyaAllaah. Iyakah? Iya yah, dunia sempit sekali. Ato bisa jadi pergaulan kita yang meluas. Hehe. :))

Hujan Matahari | Kumpulan Cerita dan Prosa

Sebuah rangkuman tulisan dari 2011-2014 baik yang termuat blog atau belum pernah sama sekali. Akan rilis pada Agustus 2014. Pemesanan dimulai pada pertengahan Juli 2014. Dan Hujan Matahari akan bisa dipesan oleh pembaca di seluruh Indonesia juga Malaysia. Bagaimana dengan di tempat lain, nantikan informasinya.

Seluruh informasi mengenai Pre-Order akan rilis pada 15 Juli 2014 ketika Pre-Order dimulai. Hujan Matahari bergerak secara indie, sebab itu buku ini tidak akan tersedia di toko buku secara umum. Buku hanya bisa didapat melalui pre-order atau memalui jaringan distribusi indie kami nantinya :)

Salam hangat,

Kurniawan Gunadi

Hujan Matahari? Payungnya bukan payung biasa dong. :))

Viral

image

[Baru kali ini dalam sejarah hidup saya. Postingan saya tembus angka sekian. Standing applause *sendirian*]

Klarifikasi dulu ah. Itu bukan murni quote dari saya, Gaes. Cuma ngutip. Yep. It was from Syrian. Not Indonesian-Javanese *koyo aku ngene iki ._.

Well yeah, terakhir melongok dasbor, quote itu udah tembus nominal seribu tuju ratus sekian. Bangga? Engga. Biasa aja. Ya iyalah. Ngapain bangga? Secara gitu ya, apa yang bisa dibanggain kalo cuma bisa nge-quote. Wong bisa do something beneran aja ga boleh bangga. Khawatir kejeblos jebakan betmen yang dengan sepakat kita sebut: UJUB.
Saya jadi mikir. Kayak Cak Lontong yang mempopulerkan hashtag #mikir dan salam lemper. Iya sih emang, lemper itu enak. Trus, apa hubungannya nin? Ya ga ada sih. Emang cuma mau bilang aja kalo lemper itu enak. Masbuloh?
Yep. Saya jadi (beneran) mikir. Itu, orang-orang di dunia maya, yang saben hari koar-koar kaya harimau Sumatra(?), yang ikutan nge-reblog quote viral di atas, yang tampak sangar membahana di depan layar laptop. Unfortunately, saya ga tau apa yang orang-orang itu kerjakan di sebelakangnya. Yah, dan sayangnya lagi. Orang-orang itu kan otomatis termasuk saya. Apa nin? Iya, termasuk SAYA, Pemirsa.
Yep. Dunia maya -bagi saya- adalah sebuah distraksi gaya baru. Sekali lagi, ini bagi saya. Sebab saya emang secara sadar penuh merasa terdistraksi. Saya juga jadi nginget-inget lagi, dulu kenapa ya saya bikin akun di sosial media ini dan itu? Di saat banyak temen-temen saya skeptis sama socmed. Bahkan dulunya aktivis socmed trus sekarang udah tobat. Haha. Tobat? Berarti mainan socmed itu sebuah aib, gitu? Iya kali. Bisa jadi. Kalo dipake buat yang engga-engga. Kalo dipake nyampah. Kalo cuma dipake ngampanye, item pula. Kalo dipake buat proposal nikah gaya baru. #plak #cetar
Ya emang sih, hak-hak mereka, saya, dan orang-orang itu, mau pake socmed model gimana. Tapi kalo semua hal negatif di dunia ini menjadi legal hanya karena alasan HAM, well, jika kamu Muslim, ketahuilah bahwa dien ini -Islam- telah mengatur HAM itu dengan lebih jeli dan proporsional. Ga percaya? Yuk ah belajar! *sayajugabarumulai *hiks
Yep. Sikap permisif dan apologi itu juga ada kadarnya, Gaes.
Nah, terus…
Saya jadi mikir juga. Quote viral itu tadi ternyata ga hanya di-reblog sama orang-orang Jawa dan Indonesia, tapi juga Bule! Apa? Iya, bule! Mikirnya itu gini, kalo quote itu di-reblog sama mereka, entah bule eropah, amerikah, bahkan timur tengah, trus reaksi mereka gimana? Cuma ngereblog, selesai? Cuma nge-share, habis perkara? Enak bener…

We hope they’ll do something more than just reblogging, Gaes. Indeed.
Pertanyaan juga buat diri sendiri. Biar adil. “What can I do more than just apdet status?” Cukupkah nge-post doang? Selesaikah nge-reblog aja? Bereskah dengan sekedar nge-retweet? Engga nin, engga.
"An apple fell and Newton discovered the law of gravity. Then thousands martyrs fell in Syria, Palestine, Burma, etc, but no one discovered the laws of humanity."
Yep. Mulai sekarang, menulislah karena memang ada hal yang perlu disampaikan kepada ummat. Beban dakwah ini terjal dan panjang, Gaes.
Apa nin? Ngomongin dakwah? Situ aja keles, gue ogah.
Oh my~
Setiap muslim yang terlahir di muka Bumi ini, hakikatnya memiliki jiwa “messenger” yang secara otomatis terinstall dalam diri mereka. Sadar atau tidak sadar. Suka atau tidak suka.

Kita muluk-muluk ngebahas pemerintahan yang ideal, tapi masyarakatnya ga pernah dibenahin. Cuek. Apatis. Hukum Allah dipelintir. Syirik dipelihara atas nama budaya. Perzinaan terang-terangan dilegalkan atas nama HAM. Aurat perempuan diobral murah, bahkan priceless atas nama trend dan emansipasi. Brain, Beauty, Behaviour? Slogan racun. Sebab implementasinya berat sebelah.
 
It’s a real misery!
Selamanya, kita ga akan pernah bisa menjadi SHALIH SENDIRIAN. Ga akan! Kalo berharap masa depan yang lebih baik, ya mulai sekarang jangan cuma sibuk mikirin diri -dan golongan elitnya- sendiri. Iya sih, emang. Sebaik-baik orang adalah mereka yang sibuk sama aibnya sendiri. Iya, bener. Tapi itu bukan alasan untuk menjadi rabun kronis dengan aib orang lain. Sibuk sama aib sendiri adalah adab “jiwa-jiwa messenger”. Dia peduli dengan sekitarnya, tapi juga tidak lupa untuk senantiasa menghisab dirinya sendiri.

Dan sepertinya saya udah mulai out of topic. *dari tadi kali nin ._.
 
Sekali lagi ya, dunia maya itu distraksi. Dunia nyata adalah sebenar-benar pembuktian bahwa kita ini ga sebatas aktor dan aktris sosialita socmed. Orang bilang, “Di dunia maya sekelas harimau, tapi di dunia nyata, ga lebih dari seekor anak kucing.” Ga sedih disindir kayak gini? Pingsan aja.
 
Do something real. Dien ini benar-benar terlalu mulia jika hanya sebatas retorika, di dunia maya pula. Sejarah sudah dengan gamblang menerangkan kepada kita, bahwa kemuliaan dien ini tidak dengan haha-hihi. Bahkan tidak sekedar keringat, namun juga darah. Apa nin? Iya, DARAH!
 
Jadi kalo kita -dalam hal ini sebenernya adalah SAYA- udah bangga kameha-meha dengan apa yang terjadi di dunia maya. Ketahuilah bahwa Bilal bin Rabah telah terpekik dengan kalimat, “Ahad, Ahad!” saat tubuhnya ditindih batu besar di atas padang pasir yang teriknya membakar kulit. Ingatlah bahwa Sumayyah telah digorok punggungnya hanya karena ia bersyahadat, mengakui Muhammad adalah utusan Allah. Rasa-rasanya saya hampir mati lemas karena malu.
 
Mungkin selama ini kita terlalu lama terjebak dalam belitan kalimat tagihan. Mentang-mentang hidup kita sudah begitu akrab dengan kartu kredit. *tsah* Selalu saja yang kita tagih, “Apa yang bisa saya dapatkan dengan saya menjadi seorang Muslim?” Tapi pernahkah kita melempar bumerang pertanyaan kepada diri sendiri, “Apa yang telah saya berikan bagi dien ini?”
 
Seseorang pernah menasehati saya, “Menjadi muslim adalah mempercayai JANJI SEBELUM BUKTI.” Ingat bagaimana kisah kesuksesan Mehmet II? Rasulullah sudah menjanjikan kegemilangan itu berabad-abad sebelum kisah nyata itu terbukti, tepatnya 8 abad. Bahwa suatu saat Konstatinopel akan jatuh lebih dulu ke tangan Muslim, mendahului Roma, yang hingga saat ini belum juga ditaklukkan kembali oleh Muslim.

Maka saya pun menganggukkan kepala dengan refleksi pak @Prie_GS yang menyatakan bahwa setiap generasi memang memiliki berat dan ringannya sendiri. Yep. Tantangan kita hari ini tentu jauh berbeda dengan tantangan umat Islam generasi terdahulu. Distraksinya beragam.

Namun selamanya, Islam tidak mengandung nilai kecuali kemuliaan bagi manusia. Ia telah mulia semenjak awal. Ialah penyempurna segala bentuk pemahaman. Maka, sesuatu yang mulia itu, jika saat ini ia sedang dihinakan oleh 2 hal: Orang-orang kafir dan kaum munafik, maka percayalah bahwa kemuliaan itu akan tetap kembali. Entah kapan. Tapi rasanya kita tidak perlu terlalu banyak bertanya kapan. Cukup ikhtiarkan, perjuangkan, dan kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedekat mungkin kita “jiplak” cara generasi terdahulu memenangkan dien ini. Sebab tidaklah Allah mempergilirkan kemenangan kecuali dengan cara yang pernah dilakukan generasi gemilang terdahulu. Hanya bedanya, kita telah melintas generasi, dimensi, dan distraksi. Tapi esensinya, segala hal yang menjadi sebab kemenangan terdahulu, itu jualah yang akan menjadi sebab kemenangan hari ini -atau di masa depan-

Keimanan adalah harga yang tak terbayar, Gaes. Cuma Allah yang sanggup ngebeli. Dengan apa? Dengan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, dan segala pencitraan yang tak pernah terjamah logika. Bukankah kita tidak diciptakan dengan sia-sia? Semua akan ada pertanggungjawaban nyata, gamblang, adil, dan berimbang. Tidak ada yang merasa dirugikan. Tidak pula diuntungkan sepihak. Tepat dan sempurna.
 
Saya merasa semakin seperti debu yang beterbangan. Tidakkah kita merasa puas hanya dengan sekedar menjadi buih di laut? Semoga tulisan yang terlalu berbusa-busa dan berapi-api  ini tidak berangsur redup, seperti kayu bakar tersiram hujan. Oh iya, kebetulan malem ini emang lagi turun hujan. Hujan Bulan Juni. *opo to nin*
Semoga tulisan ini menjadi hujjah buat saya. Minimal. Iya, minimal. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Belum Pernah Kehilangan

“Feb, kita nggak akan pernah kehilangan apa-apa. Kan semuanya milik Allah. Kita cuma dipinjamkan. Kalau segalanya milik Allah, boleh dong Allah ambil lagi. Caranya pun suka-suka Allah. Kok bisa-bisanya ngerasa kehilangan atas sesuatu yang bukan milik sendiri.”

MasyaAllah. Malu rasanya. Malu sudah sombong, merasa yang ada adalah milik diri. Padahal sejatinya diri ini terlahir tidak punya apa-apa. Segala kelengkapan yang diperoleh seiring perjalanan pun sejatinya hanyalah titipan. Ia melengkapi diri supaya diri semakin yakin bahwa hidup harus berguna, berdampak, dan bermanfaat.

Tak satupun pantas dikatakan milik diri. Bahkan raga yang melekat ini pun bukan. Lalu, bila raga yang jelas membersamai ini pun bukan milik diri, apalagi yang di luar diri?

Akhirnya saya tersadar bahwa sesungguhnya saya belum pernah kehilangan apa-apa, dan tidak akan pernah kehilangan apa-apa. Semuanya adalah milik Allah.

Adapun bentuk kehilangan paling nyata adalah kehilangan iman, bukan dunia. Sebab iman adalah satu-satunya perekat antara diri dan Pencipta. Hilang iman, barulah hilang segala. Selainnya? Tidak ada kehilangan. Bahkan hilangnya sesuatu yang teramat dicintai pun, jika itu di dunia, maka ia hanyalah sebuah pelajaran berharga bahwa memang tak ada satupun yang kita miliki, semua pasti kembali.

[Source: Febrianti Almeera]

Boleh minta bungkus?

Memantaskan Diri

Sebab ternyata, memantaskan diri bukan hanya untuk urusan jodoh. Bahkan kepemimpinan pun adalah soal memantaskan diri. Maka sudahlah tepat jika kita lebih sering menunjuk-nunjuk hidung sendiri. Mengintrospeksi diri. Mengoreksi akidah, akhlak, dan muamalah keseharian kita. Kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Sudahkah pantas kita dipimpin oleh orang-orang yang mulia?”

Bismillaahirrahmanirrahim…
Ada satu hal yang sepertinya luput dari perhatian para cybertroops. Mungkin kedengarannya sotoy, sok tahu, sok ye, tapi biarlah, hari ini saya memang sedang ingin sedikit berbusa-busa membicarakan apa yang juga sedang dibusa-busakan orang. Biar ikut mainstream. Biar postingan saya ga melulu soal perasaan. :p
"Sebagaimana keadaanmu, begitulah pula munculnya pemimpin-pemimpin di antaramu."
Kalimat di atas bukan quote saya. Itu sabda Nabi. *nahloh
Adakah korelasinya? Tentu saja ada. Rakyat jelata seperti kita *kita?* sering latah menunjuk-nunjuk hidung para pemimpin, menghakimi ini dan itu, melegitimasi mereka sebagai biang kenestapaan negeri ini. Iya juga sih, seringkali kita menemukan barisan pemimpin yang serakah, lalai, dan suka jalan-jalan ke luar negeri atas nama studi banding, pake duit rakyat. Tapi semoga saat menunjuk hidung orang lain, kita pun tidak lupa menunjuk hidung dan jidat kita sendiri.
Pemimpin adalah sebenar-benar cermin dari rakyatnya, sebab sebelum didaulat menjadi pemimpin, ia juga rakyat biasa, kan? Apalagi dalam praktik demokrasi seperti ini, mereka yang terpilih adalah cermin dominasi kualitas rakyatnya. Maka kadang logika saya terbalik. Mujurlah para kandidat yang tidak terpilih. Itu tandanya, ia tidak sebagaimana rakyatnya. Hehe.
“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan,
"Perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat dzalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat dzalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat.”
Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.” [Ibnu Qayyim Al-Jauziyah]
Semoga Bapak-Bapak capres-cawapres beserta jajaran troops-nya pernah membaca sabda Nabi di atas, bahkan bila perlu membaca pula nasehat panjang Ibnu Qayyim. Biar ada misi penyelamatan moral bangsa yang disematkan dalam pidato-pidato mereka. Paling tidak, mereka tampak peduli dengan berbagai kemaksiatan yang merata di kalangan masyarakat. Minimal, mereka ikut miris dengan kasus sodomi di Sukabumi dan prostitusi di Surabaya.
Saya sih yakin sampe 7 turunan bahwa mereka tidak mengenal rakyat jelata yang menuliskan ini. Hehe. Jadi mungkin, harapan saya lebih mirip pepesan kosong yang entah bagaimana caranya sampai ke telinga mereka, bahkan mengurat nadi menjadi nafas perjuangan mereka. Kedengerannya mustahil emang. Hiks. Tapi biarlah. Semoga itu menjadi bagian dari doa. Doa orang yang terdzalimi itu makbul, katanya. Bukankah kita ini *kita?* rakyat jelata yang merasa terdzalimi? Jika iya, maka banyak-banyak saja berdoa, daripada sibuk mencemooh dan menghembuskan citra orang lain. Dan kepada Bapak Capres-Cawapres, jika pun ada rakyat yang merasa terdzalimi, kemudian berdoa, jangan kemudian lupa bahwa doa pemimpin yang adil pun diijabah, Pak. Tidakkah Anda iri?
Jika timbul kegalauan bahwa pemimpin kita jauh dari kata IDEAL, maka bolehlah kita juga sedikit menerawang kepada yang lebih dekat. Jangan-jangan karena kita memang pantas dipimpin oleh orang-orang semacam itu, yang kita *kita?* cemooh sepanjang hari, yang menjadi bahan pencitraan di setiap sudut media massa.
Ingatkah kita dengan kata-kata Omar II, yang tidak lain ialah ‘Umar bin Abdul Aziz. Satu dari dua ‘Umar hebat yang pernah terekam sejarah. Dalam sebuah pidatonya di atas mimbar,
"Aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allaah, sebab ketakwaan akan memberikan akibat yang baik dalam setiap hal."
Kemudian dengan suara dan partitur lirik yang lebih harmoni dan menghunjam urat nadi, ia menutup pidatonya dengan,
"Wahai Saudaraku sekalian, taatilah aku selama aku memerintahkan kalian untuk menaati Allaah. Namun jika perintahku mendurhakai-Nya, maka sedikitpun kalian tidak boleh taat kepadaku dalam hal itu."
Saya percaya, masih ada hati yang merindukan pidato semacam itu menggema di atas mimbar-mimbar para pemimpin negeri.

Ternyata tugas orang tua memang berat ya, Mbak? Dulu membesarkan anak-anak. Nantinya, justru melepaskan mereka buat orang lain.

Ibuk kepada Nina

1 2 3 4 5  Next page >

 

Secangkir Kopi

Menjadilah seperti kopi; "Dari luar, boleh jadi terlihat hitam pekat tak menarik, tetapi mendekatinya justru membangkitkan semangat, membuat ide-ide berpijaran, dan menularkan jejak kebaikan."

 

Close submit section
 
Close ask section
 
Close ask section

Uh Oh - The requested page is not there!

Sorry we could not find it, try visiting the home page.